Bentrokan hebat antara pengunjuk rasa dan aparat kepolisian di Marseille, Prancis

Delman Elok – Bentrokan hebat antara pengunjuk rasa dan aparat kepolisian terjadi di Marseille, Prancis, selama mobilisasi nasional pada hari Sabtu, 17 Oktober 2026. Laporan resmi mengonfirmasi bahwa situasi di pusat kota sempat mengalami kekacauan parah akibat gelombang massa yang sangat besar dan aksi anarkis kelompok penyusup (perusak/penjarah).
Berikut adalah poin-poin fokus mengenai situasi di Marseille selama kerusuhan tersebut:
1. Polisi Sempat Kewalahan (Outnumbered)

  • Ketimpangan Jumlah Pasukan: Prefektur dan otoritas setempat melaporkan ada sekitar 7.000 hingga 8.000 perusak dan penjarah yang bergerak di pusat kota. Pada pagi harinya, mereka hanya dihadapi oleh satu kompi pasukan CRS (polisi antihuru-hara Prancis).
  • Petugas Terluka: Akibat bentrokan intens, tembakan kembang api, dan pelemparan benda tajam, setidaknya 29 petugas keamanan terluka, dua di antaranya mengalami luka serius. Polisi terpaksa mundur dan menggunakan gas air mata secara masif guna menahan laju massa.
2. Penyerbuan Balai Kota dan Fasilitas Publik

    • Hôtel de Ville (Balai Kota) Dijebol: Puluhan perusak bermasker menggunakan pagar besi sebagai bélier (alat penumbuk) untuk menjebol pintu kayu bersejarah Balai Kota Marseille. Mereka mengacak-acak lobi, merusak furnitur, coret-coret grafiti antipolisi, dan menjatuhkan patung simbolis Marianne ke lantai.
    • Pos Polisi Diserang: Fasad kantor polisi pemerintah daerah (police municipale) dilempari, kaca pelindungnya dihancurkan, dan bom asap dilemparkan ke dalam gedung dalam upaya pembakaran yang untungnya berhasil digagalkan.

3. Penjarahan Massal di Pusat Kota

  • Jalan-jalan komersial utama, seperti Rue Saint-Ferréol dan Rue Paradis, menjadi sasaran penjarahan massal. Puluhan toko pakaian merek ternama, toko elektronik, hingga supermarket dirusak kacanya dan dikosongkan isinya oleh kelompok perusuh.
4. Permintaan Renforce Darurat

    • Karena situasi yang tidak terkendali, Wali Kota Marseille, Benoît Payan, langsung menghubungi Presiden Emmanuel Macron dan Menteri Dalam Negeri untuk meminta bantuan pasukan tambahan.
    • Pemerintah pusat segera mengirimkan unit tambahan CRS dan kendaraan lapis baja Centaures untuk merebut kembali kendali jalanan dan memulihkan ketertiban pada malam harinya.

Aksi protes pada 17 Oktober 2026 ini dipicu oleh kemarahan nasional atas melonjaknya biaya hidup, harga bahan bakar, serta masalah sistem pendidikan. Meskipun sebagian besar demonstran melakukan aksi damai, kelompok radikal sayap kiri ekstrem dan kelompok Black Bloc dituding menjadi dalang di balik eskalasi kekerasan yang melanda Marseille dan Paris. Kualifikasi Resmi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *