Kebayoran Lama – Ketika Indonesia baru merdeka pada tahun 1945, kondisi keuangan Republik Indonesia masih sangat krisis dan belum memiliki kas negara. Untuk menopang jalannya roda pemerintahan, membayar gaji pegawai, serta membiayai perjuangan mempertahankan kemerdekaan, para sultan, raja, dan tokoh Nusantara menyerahkan sumbangan harta benda dalam jumlah yang sangat besar, termasuk emas, perhiasan, mahkota, dan uang tunai.
Sumbangan-sumbangan signifikan dari para penguasa lokal dan rakyat daerah di awal kemerdekaan di antaranya:
Sultan Syarif Kasim II (Kesultanan Siak Indrapura)Sultan Siak menyatukan wilayahnya ke NKRI dan berangkat langsung ke Jakarta untuk menyerahkan mahkota emas berhias intan permata, pedang kerajaan, emas batangan, serta uang tunai sebesar 13 juta Gulden (nilai yang sangat fantastis saat itu) untuk kas Republik Indonesia.
Sultan Hamengku Buwono IX & Sri Paku Alam VIII (Yogyakarta) Selain menyatakan Kesultanan Yogyakarta dan Pakualaman bergabung dengan RI, Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga menyumbangkan bantuan kas kerajaan sekitar 6,5 juta Gulden untuk membiayai operasional pemerintahan Indonesia yang saat itu sempat berpindah ke Yogyakarta.
Sumbangan dari Saudagar dan Tokoh Daerah (Termasuk Aceh)Bukan hanya para sultan, dukungan juga datang dari para tokoh, saudagar, dan rakyat di berbagai wilayah. Salah satu yang terkenal adalah sumbangan dari rakyat Aceh yang mengumpulkan emas dan harta untuk membeli pesawat pertama RI (Dakota RI-001 Seulawah) serta sumbangan emas dari saudagar Aceh (seperti Teuku Markam) yang kelak ikut menjadi bagian dari emas di puncak Monumen Nasional (Monas).
Pengorbanan harta dan emas dari para sultan serta tokoh daerah inilah yang menjadi salah satu penopang utama finansial negara Indonesia pada masa-masa awal berdiri. Kualifikasi Resmi