Banyak di antara kita yang mengira bahwa ujian terberat bagi keimanan seorang mukmin adalah masa-masa kesusahan, kemiskinan, atau penderitaan fisik. Padahal, jika menelaah lembaran nubuatan akhir zaman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam justru mengingatkan tentang satu bentuk fitnah yang kerap melalaikan manusia justru ketika keadaan sedang “baik-baik saja”.
Dalam rentetan hadis tentang akhir zaman yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, setelah umat melewati masa-masa kesulitan, disebutlah sebuah fase yang dinamakan Fitnah As-Sarra’ (fitnah kesenangan, kemewahan, atau kelengahan).
Apa itu Fitnah As-Sarra’?
Secara bahasa, as-sarra’ berarti kesenangan, kelapangan, dan kemudahan hidup. Mengapa kelapangan hidup justru disebut sebagai “fitnah” (ujian yang membingungkan)?
Sebab, ketika dunia mulai terbuka lebar, harta melimpah, teknologi memanjakan, dan fasilitas hidup tercukupi, manusia sering kali mengalami kematian hati secara perlahan.
Ujian Kenyamanan: Dalam kondisi susah, manusia cenderung mudah mengingat Allah, menengadahkan tangan, dan saling menguatkan. Namun, saat kesenangan melimpah (as-sarra’), hati manusia mulai terbuai oleh materi, disibukkan dengan akumulasi kekayaan, dan melupakan orientasi akhirat.
Terlena oleh Arus Duniawi: Kehidupan modern hari ini menawarkan berbagai macam kemewahan instan. Batas antara yang halal dan haram menjadi samar di tengah gemerlapnya budaya konsumtif. Manusia diuji sejauh mana ia tetap mampu menjaga prinsip moral ketika semua fasilitas maksiat dan kelalaian tersaji di genggaman tangan.
Titik Taut Fitnah: Menjaga Kewaspadaan di Tengah Kemapanan
Hal yang patut dicermati dalam nubuatan tersebut adalah bagaimana fitnah kesenangan ini sering kali beriringan dengan munculnya figur-figur yang memanfaatkan status, pengaruh, atau klaim tertentu untuk mencari keuntungan pribadi, mengabaikan ketakwaan, serta memicu perpecahan dari dalam.
Ketika masyarakat sudah terlena oleh zona nyaman (comfort zone), daya kritis terhadap kebenaran melemah. Orang lebih mudah disetir oleh pencitraan, popularitas, atau janji-janji manis duniawi ketimbang substansi kejujuran dan ketakwaan yang diajarkan oleh para nabi.
Bagaimana Menghadapi Fitnah Kesenangan?
Menghadapi fitnah as-sarra’ tentu tidak menuntut kita untuk menjadi anti-kemajuan atau menolak rezeki yang halal. Islam tidak pernah melarang umatnya menjadi mapan atau menikmati karunia Allah. Namun, ada koridor penjagaan agar kenikmatan dunia tidak menggeser posisi akhirat di dalam hati:
Memelihara Sifat Qanaah dan Syukur: Menyadari bahwa setiap fasilitas dan harta yang dititipkan adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan, bukan sekadar alat untuk berbangga diri.
Menjaga Alokasi Waktu dan Niat: Di tengah kesibukan mengejar capaian duniawi, pastikan porsi ibadah, kepedulian sosial, dan interaksi dengan Al-Qur’an tidak tergeser oleh urusan kesenangan material.
Menjadikan Takwa sebagai Filter: Kembali pada pesan penutup hadis Nabi SAW bahwa ukuran kemuliaan sejati hanyalah ketakwaan. Harta, jabatan, dan popularitas di dunia tidak akan menyelamatkan seseorang di hadapan Allah jika kosong dari nilai-nilai ketuhanan.
Kesenangan duniawi adalah ujian yang sangat halus. Ia datang bagaikan air sejuk yang menyegarkan, namun jika tidak disikapi dengan kehati-hatian, ia bisa menenggelamkan kesadaran iman kita secara perlahan. Jakarta Selatan