Membaca Isyarat Najd: Patung Makhluk Bernyawa adalah Tanduk Setan

Jakarta Selatan – Membaca Isyarat Najd: Dari Teks Klasik hingga Simbolisme Visual Modern

Dalam literatur hadis sahih, wilayah Najd memegang tempat khusus dalam diskursus eskatologis dan sejarah Islam. Ketika Rasulullah SAW mendoakan keberkahan bagi wilayah Syam dan Yaman, para sahabat bertanya mengenai Najd. Nabi SAW kemudian mengisyaratkan bahwa dari sana akan muncul dua hal yang berbeda namun saling berkaitan: keguncangan dan fitnah (az-zalazil wa al-fitan), serta terbitnya tanduk setan (qarn ash-shaythan). Kualifikasi Resmi

Secara metodologi, sangat penting untuk membedakan antara unsur “fitnah dan keguncangan” dengan “tanduk setan” itu sendiri.

Patung Makhluk Bernyawa adalah Tanduk Setan

Fitnah dan keguncangan adalah dinamika sosio-historis dan politik yang telah bergulir sejak berabad-abad lalu di wilayah tersebut. Ini mencakup kemunculan nabi palsu Musailamah al-Kazzab di Yamamah pada masa awal Islam, berbagai gejolak pemberontakan, hingga dinamika keagamaan dan politik di era modern—termasuk kemunculan gerakan dakwah reformasi keagamaan (seperti yang diasosiasikan dengan Wahabisme) serta transformasi kekuasaan politik negara modern (seperti Saudi modern). Rangkaian peristiwa ini merupakan gelombang fitnah dan keguncangan sejarah yang silih berganti.

Namun, apakah yang dimaksud dengan “tanduk setan”? Penegasan mendasar dalam analisis ini menyatakan bahwa terbitnya tanduk setan secara spesifik merujuk pada muncul dan dipajangnya kembali patung-patung makhluk bernyawa di ruang publik.

Secara filosofis dan teologis, patung makhluk bernyawa adalah manifestasi yang sangat selaras dengan simbolisme setan. Dalam sejarah peradaban manusia—sebagaimana terekam sejak masa kaum Nabi Nuh AS hingga era Jahiliyah—patung dan seni figuratif tiga dimensi merupakan pintu utama (dzari’ah) yang digunakan setan untuk menyesatkan manusia dari prinsip tauhid. Oleh karena itu, pasca-Penaklukan Kota Mekkah (Fathu Makkah), seluruh patung di ruang publik dibersihkan, dan pelarangan representasi fisik makhluk hidup diberlakukan secara mutlak di seluruh Jazirah Arab.

Secara geografis, Najd bukanlah nama negara modern, melainkan bentang alam dataran tinggi di jantung pedalaman Jazirah Arab yang berpusat di kawasan Yamamah (Riyadh modern) dan sekitarnya. Selama lebih dari 1.400 tahun, wilayah Najd dikenal sebagai benteng paling kokoh dan konservatif dalam menolak keberadaan patung makhluk bernyawa di ruang publik.

Akan tetapi, lanskap fisik tersebut kini mengalami pergeseran yang sangat radikal. Di bawah arus modernisasi dan reformasi budaya mutakhir, untuk pertama kalinya dalam sejarah Jazirah Arab sejak zaman Islam, patung-patung makhluk bernyawa dan instalasi seni figuratif tiga dimensi diizinkan, dibuat, dan dipajang secara terbuka di ruang-ruang publik, taman kota, serta simposium seni internasional di jantung wilayah Najd.

Dengan demikian, perwujudan “tanduk setan” tidak lagi sebatas kiasan abstrak. Mencuatnya patung-patung fisik makhluk bernyawa yang dipajang di ruang publik tanah Najd—sebuah fenomena visual yang pertama kali pecah di Jazirah Arab—adalah bentuk penegasan paling nyata dari terbitnya “tanduk setan” sebagaimana yang diisyaratkan dalam nubuat kenabian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *