Museum Prasasti bukanlah museum biasa. Tempat ini adalah bekas pemakaman elit warga asing di Batavia yang kini dialihfungsikan menjadi museum terbuka yang memamerkan keindahan seni pahat batu nisan dari masa kolonial.
Sejarah Pemakaman Kebon Jahe Kaper
Dahulu, tempat ini dikenal nama Kerkhof Laan atau Pemakaman Kebon Jahe Kaper, yang dibangun pada tahun 1795. Pemakaman ini dibuat karena pemakaman di sekitar gereja-gereja di Kota Tua sudah penuh dan sering menimbulkan wabah penyakit. Ini adalah salah satu pemakaman modern tertua di dunia yang dibangun khusus untuk kepentingan umum, jauh sebelum pemakaman terkenal seperti Père Lachaise di Paris.
Keindahan Arsitektur dan Seni Patung
Daya tarik utama museum ini bukan pada kesan mistisnya, melainkan pada nilai artistiknya:
Gaya Arsitektur: Anda akan melihat berbagai batu nisan gaya Gothic, Klasik, hingga Indis. Terdapat pilar-pilar besar, patung malaikat yang sedang menangis, hingga lambang-lambang keluarga yang sangat detail.
Koleksi Kereta Jenazah: Museum ini menyimpan kereta jenazah kuno yang ditarik kuda, memberikan gambaran bagaimana prosesi pemakaman mewah pada abad ke-18 dan 19.
Batu Nisan Tokoh Terkenal: Di sini terdapat nisan tokoh-tokoh yang namanya tercatat dalam sejarah, seperti:
Olivia Mariamne Raffles: Istri dari Thomas Stamford Raffles (Gubernur Jenderal Inggris di Nusantara).
Soe Hok Gie: Aktivis mahasiswa angkatan ’66 yang fenomenal (nisannya masih terawat meski jenazahnya telah dikremasi dan abunya disebar).
Pieter Erberveld: Tokoh yang dihukum mati karena tuduhan makar terhadap VOC (terdapat monumen peringatan yang cukup ikonik di sini).
Suasana yang Teduh dan Melankolis
Meskipun berstatus bekas makam, suasana di dalam museum ini sangat teduh karena dikelilingi oleh pepohonan besar yang rindang. Banyak fotografer dan pecinta sejarah datang ke sini untuk mengabadikan detail pahatan marmer dan prasasti yang bertuliskan bahasa Belanda kuno, Latin, hingga Indonesia.
Informasi Pengunjung:
Lokasi: Jl. Tanah Abang I No. 1, Jakarta Pusat (Sangat dekat Kantor Walikota Jakarta Pusat).
Tips: Karena merupakan area terbuka, sangat disarankan membawa anti-nyamuk dan mengenakan topi jika berkunjung di siang hari.
Fakta Unik: Sebagian besar jenazah di sini sudah dipindahkan oleh keluarganya atau dipindahkan saat pembangunan gedung di sekitarnya, sehingga yang tersisa saat ini mayoritas hanya batu nisan dan prasastinya saja sebagai objek studi sejarah.