PERTAHANAN ALA PAK PRABOWO, Diam dan Rela terlihat Lemah

Tersumpah – “Diam dan rela terlihat lemah” merupakan bagian dari strategi komunikasi politik dan taktik pertahanan berlapis ala Prabowo Subianto yang seringkali mengecoh lawan politiknya. 
Dalam realitas politik, sikap diam atau mengalah bukan berarti tidak berdaya, melainkan bagian dari kalkulasi strategis yang mendalam: 
1. Filosofi “Menang Tanpa Ngasorake” (Menang Tanpa Merendahkan)

Prabowo sering kali menerapkan nilai-nilai Jawa dalam berpolitik. Saat diserang atau difitnah, ia kerap memilih untuk menahan diri, tidak reaktif, dan membiarkan waktu yang membuktikan kebenaran. Rela terlihat mengalah atau “lemah” di permukaan justru digunakan untuk meredam tensi politik nasional demi menjaga persatuan. 

2. Kritik Terbuka vs. Aksi Nyata Pertahanan

Istilah “pertahanan lemah” sendiri memiliki rekam jejak historis pada retorika Prabowo.

  • Otorefleksi yang Jujur: Pada Debat Capres 2019, Prabowo secara blak-blakan mengkritik bahwa sistem pertahanan Indonesia rapuh dan lemah karena keterbatasan anggaran. 

  • Strategi Senyap Modernisasi: Ketika mendapat mandat sebagai Menteri Pertahanan dan kemudian menjadi Presiden, ia tidak banyak berpolemik di media. Di balik sikap “diamnya” terhadap kritik domestik, ia bergerak cepat melakukan diplomasi pertahanan tingkat tinggi ke berbagai negara dan memodernisasi alutsista TNI (seperti pengadaan pesawat jet tempur Rafale, kapal selam, dan radar canggih).

    3. Asas Kesejukan dalam Menghadapi Krisis

    Sebagai mantan Komandan Kopassus, ia kerap dipersepsikan bertemperamen keras. Namun, dalam momen-momen krusial nasional, ia justru memilih tampil sangat tenang dan melarang para pendukungnya membalas serangan cara yang dapat merusak stabilitas negara. Taktik ini efektif mengubah persepsi publik, membalikkan narasi negatif, dan memposisikan dirinya sebagai sosok pemersatu yang merangkul.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *